Kejar
Kejora Ku
“Eleh, deleh. Kamu, ya, biarpun bisu, kamu
kejoranya kelas.” puji Pak Sutrisno, guru Matematika, pelajaran kesukaanku.
“Terima kasih, pak.” ucapku dengan bahasa isyarat sambil ku tersenyum pada beliau.
Aku berjalan dengan riang. Gini-gini, biarpun aku saban hari diejek sama Egi, Ririn, dan Olla, entah kampungan atau bisulah, aku harus di atas kelemahanku.
“Eh, itu anak, senyam-senyum sendiri. Stress kali dia.” ejek Egi dari kejauhan. Aku hanya berpura-pura budek di depan mereka.
“Terima kasih, pak.” ucapku dengan bahasa isyarat sambil ku tersenyum pada beliau.
Aku berjalan dengan riang. Gini-gini, biarpun aku saban hari diejek sama Egi, Ririn, dan Olla, entah kampungan atau bisulah, aku harus di atas kelemahanku.
“Eh, itu anak, senyam-senyum sendiri. Stress kali dia.” ejek Egi dari kejauhan. Aku hanya berpura-pura budek di depan mereka.
Aku pulang disambut Bunda dan Kak Rion.
“Wah, kejoranya Bunda sudah pulang. Rayya, bagaimana belajarnya di sekolah?” tanya Bunda. Kalau dimana-mana, orangtuaku dan guru-guruku di sekolah, selalu memanggilku Kejora. Kalau ku ingat-ingat, prestasiku memang patut diacungi jempol.
“Baik, kok. Bun.” kataku.
“Iya, dong. Adik Kakak emang kayak bintang kejora di atas sana.” kata Kak Rion.
“Wah, kejoranya Bunda sudah pulang. Rayya, bagaimana belajarnya di sekolah?” tanya Bunda. Kalau dimana-mana, orangtuaku dan guru-guruku di sekolah, selalu memanggilku Kejora. Kalau ku ingat-ingat, prestasiku memang patut diacungi jempol.
“Baik, kok. Bun.” kataku.
“Iya, dong. Adik Kakak emang kayak bintang kejora di atas sana.” kata Kak Rion.
Aku langsung masuk kamar. Ku ambil buku
diary dan buku gambarku. Ku tulis kegembiraanku selama pelajaran dan
kekesalanku kepada Egi. Ku gambar kisah cintaku dengan Kak Lian, Kakak Tony,
sahabatku. Ku gambar tepinya dengan gambar bunga mawar. Ku beri warna dan ku
tempel di mading pribadiku. Mading kecilku yang berwarna hijau itu,
kenang-kenangan dari Sekolah Luar Biasa. Makanya, aku berkali-kali juara 1
lomba menggambar, loh. Karena kecapekan, aku tertidur di atas ranjang dengan
kacamata terbalik. Bunda yang melihatku, segera menanyaiku.
“Kamu sudah salat?” tanya beliau.
“Belum. Salat, yuk.” ajakku.
“Kamu sudah salat?” tanya beliau.
“Belum. Salat, yuk.” ajakku.
Setelah salat, aku langsung makan siang
dengan nasi, sayur bayam dan ikan sarden buatan Bunda. Setelah itu, aku membantu
Bunda menyiram tanaman di depan rumahku dan memetik jeruk, yang kebetulan siap
panen. Oh, ya, aku kasih tahu kalian, ya. Besok, aku mau study tour ke museum
Gajah Mada dan Taman Safari Prigen. Asyik, loh. Ketika di dapur, aku langsung
minta izin ke Bunda.
“Bun, besok aku mau study tour. Boleh ikut?” tanyaku.
“Boleh, kok. Tapi, kamu jaga diri baik-baik, ya. Anak Bunda nanti dimakan macan, loh.” goda Bunda.
Aku langsung melonjak kegirangan, sekaligus tersipu dengan godaan Bunda. “Terima kasih, bun. Bunda bagaikan mawar merahku yang sebenarnya.”
“Bun, besok aku mau study tour. Boleh ikut?” tanyaku.
“Boleh, kok. Tapi, kamu jaga diri baik-baik, ya. Anak Bunda nanti dimakan macan, loh.” goda Bunda.
Aku langsung melonjak kegirangan, sekaligus tersipu dengan godaan Bunda. “Terima kasih, bun. Bunda bagaikan mawar merahku yang sebenarnya.”
Aku langsung mandi sore dan pergi ke
musala. Lalu, aku mengaji. Sebenarnya, aku tunawicara. Tapi, aku tak pernah
patah semangat. Lagi pula, aku dibelikan alat bantu bicara. Jadi, aku tak perlu
kesulitan.
“Ayo, ini dibaca, ya. Bismillahirrahmanirrahim.” kata Bunda dengan yakin, kalau aku bisa membacanya.
Ku ikuti kata-kata Bunda. Walau agak susah, tapi, aku berhasil, “bismil.. laahir.. rahmanirahimi.”
“Wah, kejoranya Bunda memang cerdas.” puji Bunda. Aku dengan bangga meneruskan membaca mushaf, walau agak gagap.
“Ayo, ini dibaca, ya. Bismillahirrahmanirrahim.” kata Bunda dengan yakin, kalau aku bisa membacanya.
Ku ikuti kata-kata Bunda. Walau agak susah, tapi, aku berhasil, “bismil.. laahir.. rahmanirahimi.”
“Wah, kejoranya Bunda memang cerdas.” puji Bunda. Aku dengan bangga meneruskan membaca mushaf, walau agak gagap.
Kemudian, aku makan cokelat di kamar
sambil membaca buku Bahasa Inggris. Sesaat kemudian, aku salat dan membaca buku
komik di saung bersama Kak Rion. Ayah dan Bunda
Kak Rion yang sedang bermain gitar, langsung menghentikan permainannya.
“Rayya, coba kamu pandang langit di atas. Pandanglah bintang itu.”
Aku pun mencoba memandang langit malam. Cerah dan sejuk bertabur bintang berkelap-kelip, seperti intan berlian (Ingat lagu ‘Bintang Kejora’) dan dihiasi bulan sabit. Ku cari-cari yang paling terang. Dan aku menemukannya.
Kak Rion yang sedang bermain gitar, langsung menghentikan permainannya.
“Rayya, coba kamu pandang langit di atas. Pandanglah bintang itu.”
Aku pun mencoba memandang langit malam. Cerah dan sejuk bertabur bintang berkelap-kelip, seperti intan berlian (Ingat lagu ‘Bintang Kejora’) dan dihiasi bulan sabit. Ku cari-cari yang paling terang. Dan aku menemukannya.
“Pandanglah bintang kejora setiap malam.
Cobalah kau lihat benda berkilauan itu. Indah, bukan? Itulah masa depan manusia
yang sebenarnya. Harus bisa mencapai cita-cita setinggi itu. Apakah kamu sanggup?”
tanya Kak Rion.
“Bagaimana caranya, kak?” tanyaku.
“Belajar, berdoa dan patuh pada norma.” jawabnya.
“Hanya dengan itu, kak?” tanyaku lagi.
“Kelihatannya mudah, tapi sebenarnya sulit. Kalau kamu mau melakukannya dengan bersabar, esokmu seperti bintang itu. Prosesnya seperti perputaran musim.” jawabnya dengan tersenyum. “Kamu sanggup?”
Aku mengangguk dengan mantap, “Sanggup, kak.”
“Bagaimana caranya, kak?” tanyaku.
“Belajar, berdoa dan patuh pada norma.” jawabnya.
“Hanya dengan itu, kak?” tanyaku lagi.
“Kelihatannya mudah, tapi sebenarnya sulit. Kalau kamu mau melakukannya dengan bersabar, esokmu seperti bintang itu. Prosesnya seperti perputaran musim.” jawabnya dengan tersenyum. “Kamu sanggup?”
Aku mengangguk dengan mantap, “Sanggup, kak.”
“Lupakanlah kelemahanmu itu. Carilah jati
dirimu yang sebenarnya. Bukankah masa depanmu masih jauh?”
“Ya, aku sanggup hadapi semuanya.” kataku dengan bahasa isyarat.
Malam itu seakan membuatku bangun dari kegelapan. Aku bangga dengan Ayah, Bunda dan Kak Rion. Semoga mereka dilindungi ole Allah.
“Ya, aku sanggup hadapi semuanya.” kataku dengan bahasa isyarat.
Malam itu seakan membuatku bangun dari kegelapan. Aku bangga dengan Ayah, Bunda dan Kak Rion. Semoga mereka dilindungi ole Allah.
Esoknya. Aku sudah siap dengan kemeja
hitam dan rompi ungu kesukaanku, rok blus warna jeans dan kerudung pashmina
unguku.
“Kejora Bunda cantik bagai bidadari.” puji Bunda
Ternyata, aku di luar sudah ditunggu oleh Kak Lian dan mobil sportnya warna merah
“Rayya, ayo kita berangkat. Kamu nanti terlambat.”
“Tadinya mau diantar Kakak. Tapi, Rayya nggak boleh duduk sejajar, loh.” kata Kak Rion.
“Assalamualaikum.”
“Kejora Bunda cantik bagai bidadari.” puji Bunda
Ternyata, aku di luar sudah ditunggu oleh Kak Lian dan mobil sportnya warna merah
“Rayya, ayo kita berangkat. Kamu nanti terlambat.”
“Tadinya mau diantar Kakak. Tapi, Rayya nggak boleh duduk sejajar, loh.” kata Kak Rion.
“Assalamualaikum.”
Di sekolah, Egi “Geng Zee” sudah berkumpul
di depan gerbang sekolah. Aduh pusing kalau melihat dandanan mereka bertiga.
Persis seperti mau menginap ke hotel saja. Tampaknya, mereka kebingungan
mencari sosok Kak Lian. Ketika mereka melihat mobil sportnya Kak Lian, mereka
langsung menghambur ke arahnya.
“Aduh, ayang Lian lover Egi. Kamu kok telat, sih?” tanya Egi.
Tanpa ada jawaban dari dalam, atap langit-langit dan pintu mobil terbuka. Tampaklah Kak Lian menggandengku keluar.
“What is this? Triple ew, ew, ews. Ayang Lian nggandeng si bisu?” Langsung saja, Egi shock berat. Untung dia nggak sampai pingsan.
“Egi nggak apa-apa, kan? Sini, gue kasih teh anti shock made in Ririn.” Ririn menyodorkan sebotol teh manis.
“Aduh, ayang Lian lover Egi. Kamu kok telat, sih?” tanya Egi.
Tanpa ada jawaban dari dalam, atap langit-langit dan pintu mobil terbuka. Tampaklah Kak Lian menggandengku keluar.
“What is this? Triple ew, ew, ews. Ayang Lian nggandeng si bisu?” Langsung saja, Egi shock berat. Untung dia nggak sampai pingsan.
“Egi nggak apa-apa, kan? Sini, gue kasih teh anti shock made in Ririn.” Ririn menyodorkan sebotol teh manis.
Aku protes ke Kak Lian. Ku tulis “Kenapa
Egi nggak ditolong saja? Kasihan dia. Aku gabung ke Tony dulu. Kakak tolong
saja dia.”
Dia balas dengan menulis di tangannya, “Aku nggak bisa meninggalkan kamu dalam keadaan apapun. Kamu bisa saja kesulitan minta tolong dalam jarak yang cukup jauh. Ku mohon, tunggu aku di sini.”
Aku pun membantu Kak Lian menuntun Egi ke dalam bus. Egi agak girang, karena Kak Lian mau menuntunnya.
Dia balas dengan menulis di tangannya, “Aku nggak bisa meninggalkan kamu dalam keadaan apapun. Kamu bisa saja kesulitan minta tolong dalam jarak yang cukup jauh. Ku mohon, tunggu aku di sini.”
Aku pun membantu Kak Lian menuntun Egi ke dalam bus. Egi agak girang, karena Kak Lian mau menuntunnya.
Ketika dalam bus, Egi dan teman-temannya
berisik sekali, karena mereka lagaknya seperti sales. Teriak-teriak saja. Aku
yang mau tidur saja harus menyumbat kedua telingaku. Ketika sampai di museum,
Egi dan teman-temannya memimpin menghambur ke arah pintu gerbang. Hampir saja
aku terjungkal karena terdorong teman-teman. Mereka berlari ke arah sebuah
situs purbakala. Aku ditemani Salsha dan Stevani memotret benda-benda yang ada.
Itu pun ketika ke Taman Safari, keadaan
berisik saja. Sampai-sampai Neneng muntah-muntah karena pusing mendengar Egi
berisik. Lionel yang nggak nafsu makan karena bau bensin dan teriakan Egi, ikut
muntah. Semua marah-marah ke arah Egi. Kejadian sama terjadi tempat
selanjutnya, komandonya Egi. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat
kelakuan Egi yang terkesan tidak sopan. Lagi-lagi, Egi, Ririn dan Olla bikin
ulah. Ketika sampai di kolam renang, ia menceburkan diri ke kolam dengan
meloncat dari ketinggian 2 meter. Padahal, Angel, sepupu Olla, mengingatkan
mereka berkali-kali, kalau mereka nggak bisa berenang.
Mereka meluncur ke bawah dan turunnya
kaget, alias cepat sekali. Tak pelak, kepala mereka pusing. Kak Lian kesal
dengan mereka. Tapi, karena dia sebagai panitia kelas senior, harus menolong
mereka. Tapi, akhirnya, Kak Lian minta Kak Mita untuk mempercepat kepulangan.
Padahal, Egi dan teman-temannya berniat ingin caper -cari perhatian- ke Kak
Lian, supaya Kak Lian mengalihkan perhatiannya dariku.
Sebenarnya, aku ikhlas saja kalau Kak Lian
jadi milik Egi. Tapi, Kak Lian ingin selalu berada di dekatku. Di tengah
perjalanan, aku memandangi bintang kejora. Kebetulan, Kak Lian duduk di kursi
sebelahku. Dengan malu yang luar biasa, aku memberinya tulisan, “Kakak, boleh
aku tanya sebentar?”
Dengan senang hati, Kak Lian menjawabnya dengan bahasa isyarat. “Ya, ada apa?”
Dengan senang hati, Kak Lian menjawabnya dengan bahasa isyarat. “Ya, ada apa?”
“Kakak, coba lihat kejora itu” kataku
dengan bahasa isyarat sambil menunjuk ke arah bintang kejora. “Menurut Kakak,
apa artinya itu?”
“Dia menerangi kegelapan, seperti ajaran tentang bahasa isyarat darimu menerangi rasa penasaranku. Engkaulah guru bagiku. Berkat kamu, nilai-nilai setiap mata pelajaranku jadi bagus. Kejora itu paling terang, seperti kata-katamu menuntunku. Dia bercahaya, bagai wajahmu yang bersinar.” Katanya sambil melepas kacamataku.
“Dia menerangi kegelapan, seperti ajaran tentang bahasa isyarat darimu menerangi rasa penasaranku. Engkaulah guru bagiku. Berkat kamu, nilai-nilai setiap mata pelajaranku jadi bagus. Kejora itu paling terang, seperti kata-katamu menuntunku. Dia bercahaya, bagai wajahmu yang bersinar.” Katanya sambil melepas kacamataku.
Tanpa sadar, keajaiban Tuhan datang. Aku
berkata dengan lisanku.
“Kau pun segalanya bagiku. Kakak kelas, sekaligus membuatku seakan-akan jadi sempurna.” Aku bisa bicara!
Teman-temanku kaget, termasuk Egi. “Hah? Dia bisa ngomong? Gimana bisa?”
Aku menangis terharu. Ku bersujud karena bersyukur.
“Kau pun segalanya bagiku. Kakak kelas, sekaligus membuatku seakan-akan jadi sempurna.” Aku bisa bicara!
Teman-temanku kaget, termasuk Egi. “Hah? Dia bisa ngomong? Gimana bisa?”
Aku menangis terharu. Ku bersujud karena bersyukur.
Di rumah, Bunda menangis karena terharu.
Kak Rion melongo karena bingung.
“Rayya, kaulah setitik kejora, setelah Kakakmu. Semoga Allah senantiasa menuntun kalian ke jalan yang lurus.” Kami sekeluarga pun berpelukan.
Kak Lian pun berkata, “Jadi, bisa langsung ngomong, ya?”
“Iya, dong.” jawabku. Perlahan-lahan, Egi, Ririn dan Olla mendekatiku.
“Rayya, kaulah setitik kejora, setelah Kakakmu. Semoga Allah senantiasa menuntun kalian ke jalan yang lurus.” Kami sekeluarga pun berpelukan.
Kak Lian pun berkata, “Jadi, bisa langsung ngomong, ya?”
“Iya, dong.” jawabku. Perlahan-lahan, Egi, Ririn dan Olla mendekatiku.
“Rayya, maafin kita, ya. Kita udah kapok
tadi jatuh dari kolam.” kata Ririn.
“Iya, gue sadar, lo udah level 100 di atas kita.” sambung Olla.
“Sekarang, gue ikhlas kalau Lian jadi milik lo. Ambil saja dia. Gue ikhlas. Suer deh.” kata Egi berusaha meyakinkan kata-katanya.
“Oh, ya. Ada lagi yang ngganjal di hati gue.” kata Kak Lian.
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Iya, gue sadar, lo udah level 100 di atas kita.” sambung Olla.
“Sekarang, gue ikhlas kalau Lian jadi milik lo. Ambil saja dia. Gue ikhlas. Suer deh.” kata Egi berusaha meyakinkan kata-katanya.
“Oh, ya. Ada lagi yang ngganjal di hati gue.” kata Kak Lian.
“Apa?” tanyaku penasaran.
Perlahan-lahan, dia merendahkan dirinya.
“Mau nggak kamu jadi pacar gue?” tanya Kak Lian. Kemudian, ia menoleh ke arah Ayah dan Bunda, “Boleh, nggak, tante, om?” Ayah dan Bunda hanya senyum-senyum saja.
“Kita boleh-boleh saja. Tapi, nggak tahu kalau kata Rayya.”
Dengan malu-malu, aku menjawabnya. “Aku mau, kok.”
“Terima kasih, Rayya, om, tante.” kata Kak Lian senang.
“Sudah, ya. Kami pulang dulu. Assalamualaikum.” Kak Lian, Egi, Ririn, dan Olla pulang naik motor sport.
“Mau nggak kamu jadi pacar gue?” tanya Kak Lian. Kemudian, ia menoleh ke arah Ayah dan Bunda, “Boleh, nggak, tante, om?” Ayah dan Bunda hanya senyum-senyum saja.
“Kita boleh-boleh saja. Tapi, nggak tahu kalau kata Rayya.”
Dengan malu-malu, aku menjawabnya. “Aku mau, kok.”
“Terima kasih, Rayya, om, tante.” kata Kak Lian senang.
“Sudah, ya. Kami pulang dulu. Assalamualaikum.” Kak Lian, Egi, Ririn, dan Olla pulang naik motor sport.
Di kamar, aku tersenyum sambil menatap
bintang kejora.
“Terima kasih, ya Allah. Engkau telah menyempurnakanku lewat Kejora-Mu. Selamat malam.”
Aku pun tertidur dengan nyenyak.
“Terima kasih, ya Allah. Engkau telah menyempurnakanku lewat Kejora-Mu. Selamat malam.”
Aku pun tertidur dengan nyenyak.
Cerpen Karangan: Zuhrotul Aulia
Blog: www.aulia@blogspot.com
Blog: www.aulia@blogspot.com
Ku
Tunggu Kau di Kotaku
Pagi itu, Hujan turun dengan derasnya,
semua kagiatan yang biasa dilakukan di pagi hari semua terhambat. Termasuk aku,
Aku yang harus bekerja dan berangkat pagi pun sepertinya harus datang terlambat
karena hujan. Aku tau, do’a semua orang pagi ini adalah “Ya Allah, tolong
berentiin hujannya sebentar aja, aku harus berangkat ni!” Yupss, bener aja pas
aku lihat di pemberitahuan Blacberry Mesenger (BBM), Beranda Fb, Twitter semua
pasang status kayak gitu.. Tapi, kayaknya tuhan denger Do’a nya semua orang,
Akhirnya Hujan pun berhenti! eghhh iya lupa, udah cerita panjang lebar, belum
kenalan, nama aku Mira, umur aku saat ini mau masuk 20 tahun, masih muda kan..
Aku saat ini bekerja di sebuah perusahaan swasta. Aku punya pacar, namanya Abi,
aku sayang banget sama pacarku. Kita jadian udah jalan 6 bulan, Aku satu kantor
sama pacarku, makanya aku ngotot kerja, suapaya aku bisa ketemu sama dia,
hehehee, bisa dibilang pacaran satu kantor itu tambahan penyemangat untuk masuk
kerja. Buat kalian, kalau mau coba silahkan dan rasakan perbedaannya (hahaha…
Promosi..). Tapi inget jangan terlalu mesra ya, kalau lagi kumpul sama temen
temen kantor.
Seperti biasa, kalau pagi-pagi, aku dan
dia biasa biasa aja. Aku ngerjain kerjaan aku dan dia pergi ke lapangan, so…
kalau dari pagi sampai siang, aku tu jarang ketemu sama do’i. Beruntung pagi
ini karena hujan, dia gak ke lapangan dan aku masih bisa lihat dia waktu aku
dateng, Hari-hari seperti itulah yang aku jalani, sampai hari itu tiba. Pagi
pagi aku dapat SMS dari Do’i yang isinya dia pamitan soalnya dia mau pulang
karena mbahnya lagi sakit. Aku sih gak terkejut lagi karena dia pernah bilang
kalau dia memang mau pulang, karena mau jengukin mbahnya yang sedang sakit.
Pagi itu, aku sengaja berangkat lebih pagian, karena aku ingin lihat dia
sebelum dia pergi, sekalian ngurusin tiketnya dia.
Sampainya di Kantor aku langsung nyamperin
dia “Yank, uda pesen tiketnya..?” Tanyaku menyapanya tak lupa memberikan
senyuman pagiku untuknya “udah, tu mas rizal yang lagi pesenin” jawabnya dengan
lembutnya, “Udah dapet mas..?” sambil menghampiri meja kerja nya mas rizal
“udah ni, tinggal dibayar” jawabnya sambil ngasih selembar tiket “udah yuk
yank, kita bayar tiketnya” ajakku ke abi untuk bayar tiketnya.
Pembayaran tiket pun selesai, pesan travel
pun udah, tinggal nunggu jemputan ni. Tak ada firasat apa apa waktu itu, semua
berjalan seperti biasa, hanya suasana hatiku saja yang sedikit galau karena mau
ditinggal pacar dan akhrinya jemputan travel pun datang, dan itulah saat
terakhir ku melihat dia…!!!
Awalnya semua berjalan lancar, Komunikasi
antara aku dan dia pun masih berlanjut, sampai malam itu, aku mau tidur pun
masih sempat komunikasi dengannya “Sayang, aku tidur duluan ya, cuz aku udah
ngantuk banget, Good night, Miss U…” pesanku kirim duluan untuknya tak lama dia
bales “iya sayang met tidur ya… good night, Miss U tu…” mungkin itu pesan
terakhir yang aku terima darinya.
Keesokan paginya, seperti biasa aku kirim
pesan duluan ke dia, sekedar untuk membangunkan dia, tapi… uda satu jam pesanku
belum juga dibalas, aku telpon gak diangkat, aku positive think aja, kan
biasanya dia kalau uda di rumah bangunnya siang. Waktu uda nunjukin pukul 1 dan
aku cek di handphone ku gak ada pesan dari dia. Hemm… disitu aku mulai
bertanya-tanya, “Masa’ sih jam segini dia belum bangun…?” Tanyaku dalam hati…
Waktu terus berlalu.. tapi dia belum sama
sekali bales pesan aku, aku positive think lagi, mungkin aja dia lagi sibuk
sampai sampai dia gak sempet balas pesan dari aku, Malemnya pun gitu kok dia
belum balas balas pesan dari aku, disitu aku mulai kesal “Kemana sih ni orang,
kok dari tadi di hubungin gak direspon sama sekali, apa dia marah sama aku..?
tapi marah karena apa..? perasaan malam kemarin baik baik aja… gak ada masalah,
tapi kok dia sekarang diemin aku..? Kamu kemana yank… ? lagi apa kamu…? kok
kamu gak ngubungin aku sama sekali…?” Gerutu ku dalam hati, seribu pertanyaan
berkecamuk dalam pikiranku.
Sesampainya aku di kantor, Aku cemberut
aja, Fikiran aku masih tertuju kepada masalahku dengannya, ada apa ini
sebenarnya…? kok jadi gini…? Udah kesel di hati, egh PC ku gak mau nyala lagi
haduhhh ini hari sial amat sih, Kalian bisa bayangin gak perasaan aku kayak
apa..? Rasanya tu ya, pengen teriak sekenceng-kencengnya. tapi malu ah… ntar
disangka kesurupan lagi atau orang gila… iewww.. gak mau akuu…!!!, Hari-hariku
serasa kayak berat banget, kalau aku belum tau apa yang nyebabin Abi berubah
sama aku, aku coba tanya sama temen temen kantor, tapi mereka bilang gak tau,
lagian mereka jarang komunikasi dengannya..! “Haduhhh… Tuhann… apa sebenarnya
yang terjadi… kok semua kayak gini…!!! Apa salahku tuhan…” Teriak ku dalam hati.
Entah mimpi apa aku malam itu, hingga
siang itu salah satu rekan kerjaku, sebut saja namanya pak anam, dia bilang
“Mira, nanti pulangnya bapak anter ya, soalnya ada yang mau saya omongin sama
kamu” “oh siap pak” jawabku sambil tertawa kecil karena jarang-jarang dia mau
nganter aku pulang, tapi kira-kira apa ya yang mau dia omongin ke aku…?
Jam sudah nunjukin pukul 5 lewat dan
waktunya aku pulang, dan pak anam pun uda siap siap mau nganter aku pulang,
Karena penasaran, waktu di jalan aku tanya ke dia “Pak, apa sih yang mau
diomongin, mira jadi penasaran ni…” tanyaku penasaran, “Nanti, tunggu di rumah
saja, gak enak kalau di jalan… tapi kamu gak boleh marah ya.!” Jawabnya sambil
pandangan matanya ke depan karena dia sedang bawa motor, Waduhh… apaan ni? kok
mesti diomongin di rumah segala terus apa coba maksudnya aku jangan marah
tanyaku dalam hati, karena penasaran Banget, aku coba untuk pancing pancing pak
anam. “Ayolah pak apaan sih emangnya..?, kok mesti di rumah segala… Apa ini ada
hubungannya sama abi…?” Celetukku.. aku langsung spontan ngomongin abi, “Iya…
tapi kamu tenang dulu, nanti saya ceritain semuanya tapi di rumah ya” tu kan
bener, ada hubungannya sama abi, disitu perasaan ku mulai gak nentu, karena gak
sabar denger ceritanya aku suruh pak anam cepat cepat bawa motornya biar cepat
sampai di rumah dan dia bisa cerita semuanya, apa yang sebenarnya terjadi dan
setibanya di rumah, aku langsung suruh pak anam masuk dan cepat cepat ceritain
semuanya “Mira, mas abi sedang mengalami musibah, gak ada orang yang bisa
ngehubungin dia, sekarang mas abi gak bisa diganggu dulu, sampai masalahnya
selesai..!!” tutur pak anam, seperti kesamber petir siang hari, Air mataku
langsung jatuh dan tangisku pun pecah disana, rasanya gak percaya dengan apa
yang terjadi… Terus-terusan aku nyebut nama dia, Sesalku pun mulai masuk dalam
hatiku, kenapa semua bisa seperti ini… disitu terkuak semua kenapa dia gak
hubungin aku… bukan dengan dugaan ku, semua salah… ternyata apa yang aku
fikirkan tentangnya beberapa hari ini semua salah… “sayang… maafin aku.. aku
gak tau ceritanya, dan aku pun adalah orang terakhir yang diberitahu… Sayang…
aku gak nyangka kalau kejadiannya seperti itu…” teriak ku dalam hati…
“Istighfar ra.. istighfar nak… ini semua musibah..” Ucap mama, coba tenangin
aku, Ya, ini semua musibah yang tak pernah diduga oleh semua orang…
Hari-hariku berlalu setelah aku mendengar
kabar itu, tak di pungkiri perasaanku masih sedih, rasanya masih tak percaya,
dengan apa yang terjadi… tapi… apapun yang ku fikirkan, memang itulah kenyataan
yang harus dihadapi…!! Aku gak boleh cengeng… aku harus kuat, saat ini yang
bisa aku lakuin hanyalah berdo’a dan berdo’a… supaya mas abi bisa cepet keluar
dari masalah yang tengah ia hadapi dan kita semua bisa berkumpul lagi
dengannya… Amin ya Allah…
Sayang… Aku akan selalu tunggu kamu
disini, sampai kapanpun… aku akan selalu sayang sama kamu, apapun yang terjadi,
apapun kondisi kamu, aku akan jaga cinta kita, sampai kau kembali lagi, datang
dengan senyummu yang ku rindu dan kau bawa cintamu kembali padaku… Aku Tunggu
kamu di Kotaku.. Kota dimana pertama kali kita bertemu, rasa itu tumbuh,
kemudian kita menyatukan rasa itu. Kini akan ku lalui hari-hariku dengan senyum
untukmu.
Ku
Tunggu Kau di Kotaku
Pagi itu, Hujan turun dengan derasnya,
semua kagiatan yang biasa dilakukan di pagi hari semua terhambat. Termasuk aku,
Aku yang harus bekerja dan berangkat pagi pun sepertinya harus datang terlambat
karena hujan. Aku tau, do’a semua orang pagi ini adalah “Ya Allah, tolong
berentiin hujannya sebentar aja, aku harus berangkat ni!” Yupss, bener aja pas
aku lihat di pemberitahuan Blacberry Mesenger (BBM), Beranda Fb, Twitter semua
pasang status kayak gitu.. Tapi, kayaknya tuhan denger Do’a nya semua orang,
Akhirnya Hujan pun berhenti! eghhh iya lupa, udah cerita panjang lebar, belum
kenalan, nama aku Mira, umur aku saat ini mau masuk 20 tahun, masih muda kan..
Aku saat ini bekerja di sebuah perusahaan swasta. Aku punya pacar, namanya Abi,
aku sayang banget sama pacarku. Kita jadian udah jalan 6 bulan, Aku satu kantor
sama pacarku, makanya aku ngotot kerja, suapaya aku bisa ketemu sama dia,
hehehee, bisa dibilang pacaran satu kantor itu tambahan penyemangat untuk masuk
kerja. Buat kalian, kalau mau coba silahkan dan rasakan perbedaannya (hahaha…
Promosi..). Tapi inget jangan terlalu mesra ya, kalau lagi kumpul sama temen
temen kantor.
Seperti biasa, kalau pagi-pagi, aku dan
dia biasa biasa aja. Aku ngerjain kerjaan aku dan dia pergi ke lapangan, so…
kalau dari pagi sampai siang, aku tu jarang ketemu sama do’i. Beruntung pagi
ini karena hujan, dia gak ke lapangan dan aku masih bisa lihat dia waktu aku
dateng, Hari-hari seperti itulah yang aku jalani, sampai hari itu tiba. Pagi
pagi aku dapat SMS dari Do’i yang isinya dia pamitan soalnya dia mau pulang
karena mbahnya lagi sakit. Aku sih gak terkejut lagi karena dia pernah bilang
kalau dia memang mau pulang, karena mau jengukin mbahnya yang sedang sakit.
Pagi itu, aku sengaja berangkat lebih pagian, karena aku ingin lihat dia
sebelum dia pergi, sekalian ngurusin tiketnya dia.
Sampainya di Kantor aku langsung nyamperin
dia “Yank, uda pesen tiketnya..?” Tanyaku menyapanya tak lupa memberikan
senyuman pagiku untuknya “udah, tu mas rizal yang lagi pesenin” jawabnya dengan
lembutnya, “Udah dapet mas..?” sambil menghampiri meja kerja nya mas rizal
“udah ni, tinggal dibayar” jawabnya sambil ngasih selembar tiket “udah yuk
yank, kita bayar tiketnya” ajakku ke abi untuk bayar tiketnya.
Pembayaran tiket pun selesai, pesan travel
pun udah, tinggal nunggu jemputan ni. Tak ada firasat apa apa waktu itu, semua
berjalan seperti biasa, hanya suasana hatiku saja yang sedikit galau karena mau
ditinggal pacar dan akhrinya jemputan travel pun datang, dan itulah saat
terakhir ku melihat dia…!!!
Awalnya semua berjalan lancar, Komunikasi
antara aku dan dia pun masih berlanjut, sampai malam itu, aku mau tidur pun
masih sempat komunikasi dengannya “Sayang, aku tidur duluan ya, cuz aku udah
ngantuk banget, Good night, Miss U…” pesanku kirim duluan untuknya tak lama dia
bales “iya sayang met tidur ya… good night, Miss U tu…” mungkin itu pesan
terakhir yang aku terima darinya.
Keesokan paginya, seperti biasa aku kirim
pesan duluan ke dia, sekedar untuk membangunkan dia, tapi… uda satu jam pesanku
belum juga dibalas, aku telpon gak diangkat, aku positive think aja, kan
biasanya dia kalau uda di rumah bangunnya siang. Waktu uda nunjukin pukul 1 dan
aku cek di handphone ku gak ada pesan dari dia. Hemm… disitu aku mulai
bertanya-tanya, “Masa’ sih jam segini dia belum bangun…?” Tanyaku dalam hati…
Waktu terus berlalu.. tapi dia belum sama
sekali bales pesan aku, aku positive think lagi, mungkin aja dia lagi sibuk
sampai sampai dia gak sempet balas pesan dari aku, Malemnya pun gitu kok dia
belum balas balas pesan dari aku, disitu aku mulai kesal “Kemana sih ni orang,
kok dari tadi di hubungin gak direspon sama sekali, apa dia marah sama aku..?
tapi marah karena apa..? perasaan malam kemarin baik baik aja… gak ada masalah,
tapi kok dia sekarang diemin aku..? Kamu kemana yank… ? lagi apa kamu…? kok
kamu gak ngubungin aku sama sekali…?” Gerutu ku dalam hati, seribu pertanyaan
berkecamuk dalam pikiranku.
Sesampainya aku di kantor, Aku cemberut
aja, Fikiran aku masih tertuju kepada masalahku dengannya, ada apa ini
sebenarnya…? kok jadi gini…? Udah kesel di hati, egh PC ku gak mau nyala lagi
haduhhh ini hari sial amat sih, Kalian bisa bayangin gak perasaan aku kayak
apa..? Rasanya tu ya, pengen teriak sekenceng-kencengnya. tapi malu ah… ntar
disangka kesurupan lagi atau orang gila… iewww.. gak mau akuu…!!!, Hari-hariku
serasa kayak berat banget, kalau aku belum tau apa yang nyebabin Abi berubah
sama aku, aku coba tanya sama temen temen kantor, tapi mereka bilang gak tau,
lagian mereka jarang komunikasi dengannya..! “Haduhhh… Tuhann… apa sebenarnya
yang terjadi… kok semua kayak gini…!!! Apa salahku tuhan…” Teriak ku dalam hati.
Entah mimpi apa aku malam itu, hingga
siang itu salah satu rekan kerjaku, sebut saja namanya pak anam, dia bilang
“Mira, nanti pulangnya bapak anter ya, soalnya ada yang mau saya omongin sama
kamu” “oh siap pak” jawabku sambil tertawa kecil karena jarang-jarang dia mau
nganter aku pulang, tapi kira-kira apa ya yang mau dia omongin ke aku…?
Jam sudah nunjukin pukul 5 lewat dan
waktunya aku pulang, dan pak anam pun uda siap siap mau nganter aku pulang,
Karena penasaran, waktu di jalan aku tanya ke dia “Pak, apa sih yang mau
diomongin, mira jadi penasaran ni…” tanyaku penasaran, “Nanti, tunggu di rumah
saja, gak enak kalau di jalan… tapi kamu gak boleh marah ya.!” Jawabnya sambil
pandangan matanya ke depan karena dia sedang bawa motor, Waduhh… apaan ni? kok
mesti diomongin di rumah segala terus apa coba maksudnya aku jangan marah
tanyaku dalam hati, karena penasaran Banget, aku coba untuk pancing pancing pak
anam. “Ayolah pak apaan sih emangnya..?, kok mesti di rumah segala… Apa ini ada
hubungannya sama abi…?” Celetukku.. aku langsung spontan ngomongin abi, “Iya…
tapi kamu tenang dulu, nanti saya ceritain semuanya tapi di rumah ya” tu kan
bener, ada hubungannya sama abi, disitu perasaan ku mulai gak nentu, karena gak
sabar denger ceritanya aku suruh pak anam cepat cepat bawa motornya biar cepat
sampai di rumah dan dia bisa cerita semuanya, apa yang sebenarnya terjadi dan
setibanya di rumah, aku langsung suruh pak anam masuk dan cepat cepat ceritain
semuanya “Mira, mas abi sedang mengalami musibah, gak ada orang yang bisa
ngehubungin dia, sekarang mas abi gak bisa diganggu dulu, sampai masalahnya
selesai..!!” tutur pak anam, seperti kesamber petir siang hari, Air mataku
langsung jatuh dan tangisku pun pecah disana, rasanya gak percaya dengan apa
yang terjadi… Terus-terusan aku nyebut nama dia, Sesalku pun mulai masuk dalam
hatiku, kenapa semua bisa seperti ini… disitu terkuak semua kenapa dia gak
hubungin aku… bukan dengan dugaan ku, semua salah… ternyata apa yang aku
fikirkan tentangnya beberapa hari ini semua salah… “sayang… maafin aku.. aku
gak tau ceritanya, dan aku pun adalah orang terakhir yang diberitahu… Sayang…
aku gak nyangka kalau kejadiannya seperti itu…” teriak ku dalam hati…
“Istighfar ra.. istighfar nak… ini semua musibah..” Ucap mama, coba tenangin
aku, Ya, ini semua musibah yang tak pernah diduga oleh semua orang…
Hari-hariku berlalu setelah aku mendengar
kabar itu, tak di pungkiri perasaanku masih sedih, rasanya masih tak percaya,
dengan apa yang terjadi… tapi… apapun yang ku fikirkan, memang itulah kenyataan
yang harus dihadapi…!! Aku gak boleh cengeng… aku harus kuat, saat ini yang
bisa aku lakuin hanyalah berdo’a dan berdo’a… supaya mas abi bisa cepet keluar
dari masalah yang tengah ia hadapi dan kita semua bisa berkumpul lagi
dengannya… Amin ya Allah…
Sayang… Aku akan selalu tunggu kamu
disini, sampai kapanpun… aku akan selalu sayang sama kamu, apapun yang terjadi,
apapun kondisi kamu, aku akan jaga cinta kita, sampai kau kembali lagi, datang
dengan senyummu yang ku rindu dan kau bawa cintamu kembali padaku… Aku Tunggu
kamu di Kotaku.. Kota dimana pertama kali kita bertemu, rasa itu tumbuh,
kemudian kita menyatukan rasa itu. Kini akan ku lalui hari-hariku dengan senyum
untukmu.
Detik
Terakhir Bersamamu
Ku bangun dari tempat tidurku, ku buka
jendela kamarku, dan ku hirup udara segar. Aku pun bergegas mandi, setelah
beberapa menit aku langsung ke luar dari rumah dengan memakai seragam
sekolahku. Tidak lama kemudian supir aku pun datang menjemputku, perlahan ku
memasuki mobil tersebut. Beberapa menit kemudian, aku telah sampai di sekolah,
seketika ku melirik ke sana kesini tampak seorang lelaki tampan yang sedang
lewat aku pun berusaha bertanya kepada lelaki tampan itu.
“hy… kamu tahu di mana ruang kepsek?”
ucapku dengan suara lembut.
“oh, ruangan kepsek, lurus aja terus belok kiri di samping ruang perpustakaan itu ruangan kepsek,” ucap si lelaki tampan itu.
“terima kasih ya..” ujarku.
“iya… sama-sama” sambil tersenyum.
“oh, ruangan kepsek, lurus aja terus belok kiri di samping ruang perpustakaan itu ruangan kepsek,” ucap si lelaki tampan itu.
“terima kasih ya..” ujarku.
“iya… sama-sama” sambil tersenyum.
Kring!!! suara bel pun berbunyi semua
siswa bergegas masuk ke dalam ke dalam kelas. Tidak lama kemudian Ibu Gina pun
masuk dengan diikuti seorang gadis yang masih asing dikenal oleh siswa.
“pagi, anak-anak!” memulai pembicaraan.
“pagi bu” siswa serentak.
“kita kedatangan siswa baru, silahkan perkenalkan nama kamu”
“hy, nama kau AnaTasya biasa dipanggil Tasya. Aku pindahan dari kalimantan. Semoga kalian senang dengan kehadiranku di sekolah ini”
“Tasya duduk di dekat Farel,” ucap Ibu Gina.
“iya, bu”
“pagi, anak-anak!” memulai pembicaraan.
“pagi bu” siswa serentak.
“kita kedatangan siswa baru, silahkan perkenalkan nama kamu”
“hy, nama kau AnaTasya biasa dipanggil Tasya. Aku pindahan dari kalimantan. Semoga kalian senang dengan kehadiranku di sekolah ini”
“Tasya duduk di dekat Farel,” ucap Ibu Gina.
“iya, bu”
Setelah beberapa jam. Kring!!! bel pun
kembali berbunyi yang bertanda istirahat. Tiba-tiba seseorang menjulurkan
tangannya.
“aku Farel”
“aku Tasya”
“oh, ya kamu kan yang tadi bertanya di mana ruang kepsek?”
“oh… iya”
“yuk… ke kantin?”
“yuk,”
“aku Farel”
“aku Tasya”
“oh, ya kamu kan yang tadi bertanya di mana ruang kepsek?”
“oh… iya”
“yuk… ke kantin?”
“yuk,”
Kring!!! bel kembali berbunyi yang
bertanda pelajaran telah selesai. Tiba-tiba Farel menghampiriku.
“Tasya kamu ngapain di sini, kok belum pulang?” ucap si Farel.
“aku lagi nunggu supir aku”
“daripada nunggu lama, yuk bareng aja pulangnya lagian kita satu arah”
“iya deh”
Aku pun langsung menaiki motor Farel.
“Tasya kamu ngapain di sini, kok belum pulang?” ucap si Farel.
“aku lagi nunggu supir aku”
“daripada nunggu lama, yuk bareng aja pulangnya lagian kita satu arah”
“iya deh”
Aku pun langsung menaiki motor Farel.
Sesampai di rumah.
“Farel… terima kasih ya… atas tumpangannya” ucapku.
“iya sama-sama”
Farel pun langsung pergi.
“Farel… terima kasih ya… atas tumpangannya” ucapku.
“iya sama-sama”
Farel pun langsung pergi.
Dan semenjak Tasya bertemu dengan Farel,
Tasya semakin akrab dengan Farel. Tasya mengganggap Farel adalah sahabatnya
begitupun Farel. Keesokan harinya di sekolah aku merasa kebingungan.
“Farel ke mana yah? dari kemarin Farel gak datang ke sekolah” dalam batin Tasya.
“Farel ke mana yah? dari kemarin Farel gak datang ke sekolah” dalam batin Tasya.
Sepulang sekolah aku langsung pergi ke
rumah Farel.
“tok… tok… tok” suara ketukan pintu.
“tante Farelnya ada?”
“maaf… Farel ada di rumah sakit”
“di rumah sakit, Farel sakit tan… sakit apa?”
“gak baik bicara di luar, yuk masuk dulu”
“tok… tok… tok” suara ketukan pintu.
“tante Farelnya ada?”
“maaf… Farel ada di rumah sakit”
“di rumah sakit, Farel sakit tan… sakit apa?”
“gak baik bicara di luar, yuk masuk dulu”
Aku pun langsung masuk.
“sebenarnya Farel didiagnosa kanker”
“apa kanker?!” aku pun langsung meneteskan air mata.
“dan umur Farel gak lama lagi”
“sebenarnya Farel didiagnosa kanker”
“apa kanker?!” aku pun langsung meneteskan air mata.
“dan umur Farel gak lama lagi”
Aku pun langsung pergi ke rumah sakit.
“Farel… ini aku Tasya” ucap ku.
“Tasya…” dengan suara berbata-bata.
“Rel… kenapa kamu nutup-nutupin soal penyakit kamu”
“maaf… Tasya aku gak mau kamu sedih”
“Farel kamu harus kuat!”
“Tasya… maafin aku, ini detik terakhir aku bersama kamu, kamu adalah sahabat aku yang paling baik dan cantik, Tasya aku harus pergi, kamu jangan nangis…”
“Taassyyaa!!!” dan Farel pun menghembuskan napas terkhirnya.
“faarrell!!!”dengan suara teriakan.
“Farel… ini aku Tasya” ucap ku.
“Tasya…” dengan suara berbata-bata.
“Rel… kenapa kamu nutup-nutupin soal penyakit kamu”
“maaf… Tasya aku gak mau kamu sedih”
“Farel kamu harus kuat!”
“Tasya… maafin aku, ini detik terakhir aku bersama kamu, kamu adalah sahabat aku yang paling baik dan cantik, Tasya aku harus pergi, kamu jangan nangis…”
“Taassyyaa!!!” dan Farel pun menghembuskan napas terkhirnya.
“faarrell!!!”dengan suara teriakan.
“Rel… kamu adalah sahabat terbaikku, aku
gak akan lupakan kamu” dalam batin.
Cerpen Karangan: Suci Indah Sari
Cintaku
Tak Akan Punah
“Siapa ya namanya? Dia begitu indah bak
bidadari saja” lamunku.
“Hey Dik! Melamun saja kau dari tadi?” suara
Roy mengagetkanku.
“Oh, enggak ada apa-apa kok Roy” jawabku
sambil tersenyum.
“Halah, tak usah lah kau bohongi sahabatmu
ini! Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan dari aku!”.
“Beneran.. Gak ada apa-apa Roy” elakku.
Teett.. Teett.. Suara bel masuk pun
terdengar, pertanda semua siswa harus segera memasuki kelas masing-masing.
“Sudah bel tuh, mari kita masuk ke kelas”
Ajakku sambil berdiri dari kursi kantin.
Selama perjalanan menuju kelas, Roy selalu
menanyakan hal tadi kepadaku. Namun, aku hanya menjawabnya dengan seutas
senyuman. Sebelum masuk ke kelas tiba-tiba pandanganku terhenti di sesosok
gadis berjilbab yang ada di lamunanku tadi.
“Aku baru sadar, bahwa dia adalah tetangga
kelasku” ucapkku dalam hati.
Belum puas memandangi wajahnya yang elok. Aku pun sudah ditarik Roy masuk kelas.
Belum puas memandangi wajahnya yang elok. Aku pun sudah ditarik Roy masuk kelas.
“Ayo lah Dik, Bu Dita sudah menuju kesini
tuh!”
“Iya-iya..” jawabku singkat.
“Iya-iya..” jawabku singkat.
Disaat pelajaran sedang berlangsung, si
Roy pun tetap menanyakan hal yang sama kepadaku. Dengan agak berbisik, ia
bertanya.
“Dik.. Dika.. ceritalah kepadaku. Apasih
yang kau pikirkan tadi?”.
Aku hanya terdiam, saat itu yang
kupikirkan hanya gadis tadi. Namun, semua pikiranku itu hilang disaat Bu Dita
dengan suara yang mengagetkan menanyakan sebuah pertanyaan kepadaku. Aku yang
dari tadi hanya melamun kontan saja menjawab “Iya, benar bu!!” di ikuti dengan
tawa teman-temanku sekelas.
“Dika.. Dika.. Makanya kalau dikelas
jangan melamun saja” kata Bu Dita.
“Iya bu, maaf.” jawabku sambil tertunduk
malu.
Tak lama kemudian bel pulang berbunyi. Seperti
biasa, aku dan Roy selalu pulang paling akhir karena harus merapikan pakaian
olahraga dan buku-buku yang ada di laci meja kita masing-masing. Setelah
semuanya selesai, kita beranjak keluar kelas. Tak kusangka, aku melihat kembali
gadis manis itu. Ia sedang berbincang-bincang bersama dua orang teman
perempuannya di depan kelas. Belum sempat memandanginya lagi, aku sudah ditarik
oleh Roy.
“Cepatlah dik, aku mau cepat-cepat pulang
nih” ucapnya sambil menarik ku.
“Halah Roy, kamu itu ganggu suasana saja
sih dari tadi” balasku.
“Lhoh.. Emang ganggu gimana?” ucapnya
kebingungan.
“Ini tadi, kamu sudah dua kali ganggu aku
melihat seseorang!”
“Hehe.. iya maaf lah, emang kau lagi
melihat siapa Dik?” tanyanya penasaran.Karena aku tidak tahu namanya dan kita
sudah berada agak jauh maka, aku menjawab pertanyaan Roy dengan menunjuk dia
sambil berkata.
“Itu yang berjilbab biru!”
“Oh.. Gita maksud kau? Itu sih temanku
waktu Sekolah Dasar dulu. Kau suka ya?”
“Huss.. ya enggak lah” elakku
“Tak usah lah kau bohong, aku sudah paham
sama sifat kau. Tenang saja, nanti ku kasih kau nomor handphonenya“
Aku pun hanya tersenyum. Setibanya di
rumah, aku langsung mengambil Handphoneku dan memasukkan nomor Gita pemberian
si Roy. Tak berselang lama, aku mengirim pesan singkat kepadanya, dan ia pun
membalas pesanku. Dari pesan singkat inilah kita berdua berkenalan dan menjadi
lebih akrab. Hampir selama lima minggu kita selalu mengobrol lewat pesan
singkat, dari situ aku mulai merasakan sesuatu. Rasa yang tak pernah kurasakan
sebelumnya mungkin, rasa inilah yang biasa orang sebut dengan “cinta”. Dan aku
merasa bahwa Gita juga mempunyai rasa yang sama, hal itu terlihat dari
perhatiannya yang besar kepadaku bahkan, kita pernah bicara dari hati ke hati
tentang perasaan ini.
Setelah perkenalan itu, hampir setiap
pulang sekolah aku selalu menyempatkan waktu untuk sekedar menyapa Gita dan
bercengkrama sebentar dengannya walaupun, sesekali aku masih merasa canggung
bila didekatnya. Semakin lama kita pun semakin dekat, karena kedekatan itu pula
banyak teman yang menganggap kita sudah berpacaran.
Namun, rasa cinta yang sudah besar ini tiba-tiba terasa musnah ketika aku mulai mengetahui bahwa Gita sudah memiliki kekasih. Aku tak menyangka sebelumnya, karena Gita tak pernah membicarakan hal itu kepadaku. Aku mengetahuinya disaat meminjam handphonenya, aku yang tak percaya akan hal itu langsung bertanya padanya.
Namun, rasa cinta yang sudah besar ini tiba-tiba terasa musnah ketika aku mulai mengetahui bahwa Gita sudah memiliki kekasih. Aku tak menyangka sebelumnya, karena Gita tak pernah membicarakan hal itu kepadaku. Aku mengetahuinya disaat meminjam handphonenya, aku yang tak percaya akan hal itu langsung bertanya padanya.
“Gita sudah punya pacar ya?” tanyaku
pelan. Gita hanya diam membisu dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Namun,
karena aku sangat butuh jawabannya, aku pun menanyainya kembali.
“Gita, lihat aku.. Aku mau kamu jujur,
kamu itu sudah punya pacar ya?”
“Iya Dik, aku sudah punya kekasih”
jawabnya lirih.
Mendengar jawaban itu, aku merasa semua
hal yang kulakukan ke Gita sia-sia, padahal selama aku sudah sangat
mencintainya. Dan kejadian ini seakan membuat cintaku hampir punah, cinta yang
bersemi belakangan ini. Aku yang merasa kesal dengan jawaban itu kontan saja
berkata
“Ya sudah!!” jawabku sambil
meninggalkannya.
Kurasa Gita juga menyadari hal itu, ia
berkali-kali mengirim pesan minta maaf kepadaku namun, tak satu pesan pun yang
kubalas. Di sekolah, aku juga lebih memilih menghindar bertemu dengannya.
Si Roy melihat ada sesuatu yang aneh
denganku dan disaat jam pelajaran sedang kosong ia mendekatiku dan menanyaiku.
“Hey Dik, kau kulihat kok tidak pernah sama Gita lagi? Tanyanya penasaran.
“Hey Dik, kau kulihat kok tidak pernah sama Gita lagi? Tanyanya penasaran.
“Tak usah bahas itu Roy!” jawabku.
“Kau itu selalu begitu, cobalah sesekali
cerita kepadaku. Ya barangkali aku bisa bantu kau” jawabnya menyakinkan.
“Aku lagi kesal sama Gita!”
“Kok bisa?”
“Iya, kamu tahu kan aku suka sama Gita?”
“Iya, aku tahu. Terus apa masalahnya?”
“Dia sudah ada yang punya dan ia tak
pernah menceritakan hal itu kepadaku” jawabku pelan.
“Oh.. Begitu ceritanya. Ya kalau begitu
kau lupakan sajalah dia Dik! Kan masih banyak gadis di luar sana” Mendengar
saran si Roy aku hanya terdiam. Nampaknya, Roy tahu apa yang sedang aku
pikirkan. Ia pun kembali melanjutkan sarannya.
“Kalau kau tidak bisa melupakannya, sekarang hal yang bisa kau lakukan adalah menanti. Cobalah tunggu dia, tenang saja Dik semua itu pasti ada akhirnya kok”.
“Kalau kau tidak bisa melupakannya, sekarang hal yang bisa kau lakukan adalah menanti. Cobalah tunggu dia, tenang saja Dik semua itu pasti ada akhirnya kok”.
Mendengar ucapan si Roy aku tersadar dan
hatiku terasa tergerak untuk segera meminta maaf ke Gita. Sepulang sekolah, aku
menemuinya dan berkata.
“Hai Gita, maaf ya soal kemarin lusa aku
sudah men..” belum sempat selesai bicara, Gita sudah menjawab.
“Iya, enggak apa-apa kok Dik, aku mengerti
kok. Maaf juga ya, aku sudah buat ka..” Belum sempat Gita melanjutkan
ucapannya, aku sudah memotongnya.
“Iya, enggak apa-apa kok” Jawabku sembari
tersenyum.
Dan setelah kejadian itu, aku dan Gita
menjadi teman akrab. Aku lebih memilih untuk menantinya, walau aku tak tahu
sampai kapan harus menanti? Hal itu ku lakukakan karena aku yakin, sebuah
penantian pasti ada akhirnya dan aku juga yakin bahwa cintaku tak akan punah,
cintaku akan tetap lesatari, disini.. di hati kecil ini.
Cintaku
Tak Akan Punah
“Siapa ya namanya? Dia begitu indah bak
bidadari saja” lamunku.
“Hey Dik! Melamun saja kau dari tadi?” suara
Roy mengagetkanku.
“Oh, enggak ada apa-apa kok Roy” jawabku
sambil tersenyum.
“Halah, tak usah lah kau bohongi sahabatmu
ini! Pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan dari aku!”.
“Beneran.. Gak ada apa-apa Roy” elakku.
Teett.. Teett.. Suara bel masuk pun
terdengar, pertanda semua siswa harus segera memasuki kelas masing-masing.
“Sudah bel tuh, mari kita masuk ke kelas”
Ajakku sambil berdiri dari kursi kantin.
Selama perjalanan menuju kelas, Roy selalu
menanyakan hal tadi kepadaku. Namun, aku hanya menjawabnya dengan seutas
senyuman. Sebelum masuk ke kelas tiba-tiba pandanganku terhenti di sesosok
gadis berjilbab yang ada di lamunanku tadi.
“Aku baru sadar, bahwa dia adalah tetangga
kelasku” ucapkku dalam hati.
Belum puas memandangi wajahnya yang elok. Aku pun sudah ditarik Roy masuk kelas.
Belum puas memandangi wajahnya yang elok. Aku pun sudah ditarik Roy masuk kelas.
“Ayo lah Dik, Bu Dita sudah menuju kesini
tuh!”
“Iya-iya..” jawabku singkat.
“Iya-iya..” jawabku singkat.
Disaat pelajaran sedang berlangsung, si
Roy pun tetap menanyakan hal yang sama kepadaku. Dengan agak berbisik, ia
bertanya.
“Dik.. Dika.. ceritalah kepadaku. Apasih
yang kau pikirkan tadi?”.
Aku hanya terdiam, saat itu yang
kupikirkan hanya gadis tadi. Namun, semua pikiranku itu hilang disaat Bu Dita
dengan suara yang mengagetkan menanyakan sebuah pertanyaan kepadaku. Aku yang
dari tadi hanya melamun kontan saja menjawab “Iya, benar bu!!” di ikuti dengan
tawa teman-temanku sekelas.
“Dika.. Dika.. Makanya kalau dikelas
jangan melamun saja” kata Bu Dita.
“Iya bu, maaf.” jawabku sambil tertunduk
malu.
Tak lama kemudian bel pulang berbunyi. Seperti
biasa, aku dan Roy selalu pulang paling akhir karena harus merapikan pakaian
olahraga dan buku-buku yang ada di laci meja kita masing-masing. Setelah
semuanya selesai, kita beranjak keluar kelas. Tak kusangka, aku melihat kembali
gadis manis itu. Ia sedang berbincang-bincang bersama dua orang teman
perempuannya di depan kelas. Belum sempat memandanginya lagi, aku sudah ditarik
oleh Roy.
“Cepatlah dik, aku mau cepat-cepat pulang
nih” ucapnya sambil menarik ku.
“Halah Roy, kamu itu ganggu suasana saja
sih dari tadi” balasku.
“Lhoh.. Emang ganggu gimana?” ucapnya
kebingungan.
“Ini tadi, kamu sudah dua kali ganggu aku
melihat seseorang!”
“Hehe.. iya maaf lah, emang kau lagi
melihat siapa Dik?” tanyanya penasaran.Karena aku tidak tahu namanya dan kita
sudah berada agak jauh maka, aku menjawab pertanyaan Roy dengan menunjuk dia
sambil berkata.
“Itu yang berjilbab biru!”
“Oh.. Gita maksud kau? Itu sih temanku
waktu Sekolah Dasar dulu. Kau suka ya?”
“Huss.. ya enggak lah” elakku
“Tak usah lah kau bohong, aku sudah paham
sama sifat kau. Tenang saja, nanti ku kasih kau nomor handphonenya“
Aku pun hanya tersenyum. Setibanya di
rumah, aku langsung mengambil Handphoneku dan memasukkan nomor Gita pemberian
si Roy. Tak berselang lama, aku mengirim pesan singkat kepadanya, dan ia pun
membalas pesanku. Dari pesan singkat inilah kita berdua berkenalan dan menjadi
lebih akrab. Hampir selama lima minggu kita selalu mengobrol lewat pesan
singkat, dari situ aku mulai merasakan sesuatu. Rasa yang tak pernah kurasakan
sebelumnya mungkin, rasa inilah yang biasa orang sebut dengan “cinta”. Dan aku
merasa bahwa Gita juga mempunyai rasa yang sama, hal itu terlihat dari
perhatiannya yang besar kepadaku bahkan, kita pernah bicara dari hati ke hati
tentang perasaan ini.
Setelah perkenalan itu, hampir setiap
pulang sekolah aku selalu menyempatkan waktu untuk sekedar menyapa Gita dan
bercengkrama sebentar dengannya walaupun, sesekali aku masih merasa canggung
bila didekatnya. Semakin lama kita pun semakin dekat, karena kedekatan itu pula
banyak teman yang menganggap kita sudah berpacaran.
Namun, rasa cinta yang sudah besar ini tiba-tiba terasa musnah ketika aku mulai mengetahui bahwa Gita sudah memiliki kekasih. Aku tak menyangka sebelumnya, karena Gita tak pernah membicarakan hal itu kepadaku. Aku mengetahuinya disaat meminjam handphonenya, aku yang tak percaya akan hal itu langsung bertanya padanya.
Namun, rasa cinta yang sudah besar ini tiba-tiba terasa musnah ketika aku mulai mengetahui bahwa Gita sudah memiliki kekasih. Aku tak menyangka sebelumnya, karena Gita tak pernah membicarakan hal itu kepadaku. Aku mengetahuinya disaat meminjam handphonenya, aku yang tak percaya akan hal itu langsung bertanya padanya.
“Gita sudah punya pacar ya?” tanyaku
pelan. Gita hanya diam membisu dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Namun,
karena aku sangat butuh jawabannya, aku pun menanyainya kembali.
“Gita, lihat aku.. Aku mau kamu jujur,
kamu itu sudah punya pacar ya?”
“Iya Dik, aku sudah punya kekasih”
jawabnya lirih.
Mendengar jawaban itu, aku merasa semua
hal yang kulakukan ke Gita sia-sia, padahal selama aku sudah sangat
mencintainya. Dan kejadian ini seakan membuat cintaku hampir punah, cinta yang
bersemi belakangan ini. Aku yang merasa kesal dengan jawaban itu kontan saja
berkata
“Ya sudah!!” jawabku sambil
meninggalkannya.
Kurasa Gita juga menyadari hal itu, ia
berkali-kali mengirim pesan minta maaf kepadaku namun, tak satu pesan pun yang
kubalas. Di sekolah, aku juga lebih memilih menghindar bertemu dengannya.
Si Roy melihat ada sesuatu yang aneh
denganku dan disaat jam pelajaran sedang kosong ia mendekatiku dan menanyaiku.
“Hey Dik, kau kulihat kok tidak pernah sama Gita lagi? Tanyanya penasaran.
“Hey Dik, kau kulihat kok tidak pernah sama Gita lagi? Tanyanya penasaran.
“Tak usah bahas itu Roy!” jawabku.
“Kau itu selalu begitu, cobalah sesekali
cerita kepadaku. Ya barangkali aku bisa bantu kau” jawabnya menyakinkan.
“Aku lagi kesal sama Gita!”
“Kok bisa?”
“Iya, kamu tahu kan aku suka sama Gita?”
“Iya, aku tahu. Terus apa masalahnya?”
“Dia sudah ada yang punya dan ia tak
pernah menceritakan hal itu kepadaku” jawabku pelan.
“Oh.. Begitu ceritanya. Ya kalau begitu
kau lupakan sajalah dia Dik! Kan masih banyak gadis di luar sana” Mendengar
saran si Roy aku hanya terdiam. Nampaknya, Roy tahu apa yang sedang aku
pikirkan. Ia pun kembali melanjutkan sarannya.
“Kalau kau tidak bisa melupakannya, sekarang hal yang bisa kau lakukan adalah menanti. Cobalah tunggu dia, tenang saja Dik semua itu pasti ada akhirnya kok”.
“Kalau kau tidak bisa melupakannya, sekarang hal yang bisa kau lakukan adalah menanti. Cobalah tunggu dia, tenang saja Dik semua itu pasti ada akhirnya kok”.
Mendengar ucapan si Roy aku tersadar dan
hatiku terasa tergerak untuk segera meminta maaf ke Gita. Sepulang sekolah, aku
menemuinya dan berkata.
“Hai Gita, maaf ya soal kemarin lusa aku
sudah men..” belum sempat selesai bicara, Gita sudah menjawab.
“Iya, enggak apa-apa kok Dik, aku mengerti
kok. Maaf juga ya, aku sudah buat ka..” Belum sempat Gita melanjutkan
ucapannya, aku sudah memotongnya.
“Iya, enggak apa-apa kok” Jawabku sembari
tersenyum.
Dan setelah kejadian itu, aku dan Gita
menjadi teman akrab. Aku lebih memilih untuk menantinya, walau aku tak tahu
sampai kapan harus menanti? Hal itu ku lakukakan karena aku yakin, sebuah
penantian pasti ada akhirnya dan aku juga yakin bahwa cintaku tak akan punah,
cintaku akan tetap lesatari, disini.. di hati kecil ini.
Anniversary
12 Month (1 Year)
Aku adalah seorang Pria berumur 14 tahun
yang memiliki seorang mantan berinisial SAM yang berumur 12 tahun. Kami mulai
berpacaran pada tanggal 12 Januari 2013. Dia memiliki sikap dan karakter yang
berbeda dengan gadis lainnya sehingga membuatku sulit untuk berhenti
mencintainya. Gaya berpacaran kami pun berbeda dengan gaya pacaran yang sering
dilakukan oleh pasangan kekasih lainnya. Kita pernah membuat sebuah buku yang
berisi tentang perjalanan cinta kita berdua dari awal sampai akhir. Susah
senang kita lewati bersama. Dia selalu mengingatkan ku untuk tidak pernah
meninggalkan sholat 5 waktu.
“Kamu boleh melupakan dan meninggalkan
aku, tapi kamu tidak boleh melupakan atau meninggalkan sholat 5 waktu, meskipun
hanya 1 rokaat saja.” Tegasnya kepadaku.
Aku sangat senang memiliki wanita seperti
dirinya, bagiku dia adalah wanita ‘limited edition’, langka, dan susah dicari.
Faktor utama yang memutuskan hubungan kami adalah karena Dia memiliki sebuah
penyakit yang cukup parah, yaitu Kanker Otak.
“Aku ingin hubungan kita cukup sampai
disini, aku ingin fokus terhadap penyakitku yang tidak lama lagi akan merenggut
nyawaku, dan sekarang aku duduk di bangku kelas 9 SMP, itu artinya setahun lagi
aku akan mengikuti Ujian Nasional, aku harus fokus terhadap belajarku.
Terimakasih untuk 6 bulan ini, karena kamu telah menyemangatiku untuk
mengalahkan penyakit yang telah berhasil hinggap dalam diriku.”
Perkataan itu terlontar jelas dari
mulutnya untukku sehingga membuat butiran kristal air ini terjatuh sangat
banyak dari kedua bola mataku. Tak banyak yang dapat ku perbuat setelah
mendengar perkataan itu selain ku menangisi apa yang telah terjadi pada hari
itu.
Sekarang aku benar-benar kehilangannya,
semangatku untuk hidup telah hilang. Setiap hari setelah kepergiannya,
aktifitas yang ku lalui tak jauh dari menyendiri. Hingga seseorang berkata
kepadaku.
“Cewek di luar sana masih banyak, untuk
apa lo sesali bahkan lo tangisi sesuatu yang telah terjadi yang mungkin tidak
akan terulang lagi. Sekarang saatnya untuk lo bangkit dari keterpurukan ini!
Tak ada gunanya lo tangisi semua ini yang jelas-jelas akan membuat hari-hari lo
gak tenang. Satu-satunya jalan lo cari cewek lain yang bisa buat lo nyaman,
dengan begitu lo akan move on dengan sendirinya.”
Setelah mendengar perkataan itu, aku
memulai langkah pertama untuk melupakan SAM dengan cara aku mencari
penggantinya.
Beberapa bulan setelah ku berpisah dengan
SAM, seorang gadis berinisial INF menyatakan cinta kepadaku tapi aku hanya
menganggap dirinya tak lebih dari seorang teman. Tetapi di sisi lain aku
berfikir, mungkin dengan aku berpacaran dengan INF aku akan bisa melupakan SAM.
Tetapi setelah 2 minggu kita berpacaran, perasaan cinta ini tak kunjung datang
untuknya. Aku tidak bisa terus-terusan berpura-pura mencintai INF dan pada
akhirnya aku memutuskan hubungan kita.
Beberapa minggu setelah ku berpisah dengan
INF, aku mulai menyukai gadis cantik berinisial NF, dia adalah teman sekelasku
yang berhasil memikat hatiku sehingga mata ini selalu tertuju padanya ketika
sedang berlangsungnya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah. Aku melakukan
PDKT dengannya kurang lebih 3 minggu, kemudian kita mulai berpacaran. Namun,
hubungan kita hanya berlangsung selama 1 bulan, dia tidak benar-benar
mencintaiku karena dia tidak bisa mengerti dengan kesibukanku di sekolah.
Aku mengikuti 2 Ekstrakulikuler di
sekolah, diantaranya Teather Community Ranti Mula (TCRM) dan Rohani Islam
(Rohis) AL-FATTAH. Kemudian aku bergabung dalam 2 organisasi yang terdapat di
sekolahku, yaitu Gebu Cinta dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
Suatu hari aku sedang mengikuti kegiatan Rapat OSIS di sekolah yang sedang membahas akan dilaksanakannya acara “Gebyar Muharram”, rapat dimulai dari pagi hari dan berakhir sore hari, sehingga pada hari itu aku tidak bisa memenuhi keinginan NF untuk jalan berdua dengannya. Pada malam harinya NF mengirim pesan singkat kepadaku.
Suatu hari aku sedang mengikuti kegiatan Rapat OSIS di sekolah yang sedang membahas akan dilaksanakannya acara “Gebyar Muharram”, rapat dimulai dari pagi hari dan berakhir sore hari, sehingga pada hari itu aku tidak bisa memenuhi keinginan NF untuk jalan berdua dengannya. Pada malam harinya NF mengirim pesan singkat kepadaku.
“Kamu tidak pernah ada waktu untukku, aku
bosan dengan gaya pacaran seperti ini. Aku ingin kita putus karena kamu selalu
sibuk dengan urusanmu dan menomor 2 kan aku.”
Aku tidak merasakan sakit hati yang
mendalam karena dia bukan seperti sosok wanita yang aku inginkan, dia tidak
mengerti dengan kesibukanku di sekolah. Jadi untuk apa aku mempertahankan
wanita yang tidak benar-benar mencintaiku.
Beberapa minggu setelah aku putus dengan
NF. Datang lagi gadis berinisial YS, dia adalah teman sekelasku sekaligus
sahabatku. Aku selalu bercerita tentang keluh kesah yang aku hadapi bersama
semua mantanku, bahkan aku tidak enggan untuk bercerita tentang masalah
pribadiku kepadanya. Aku sangat dekat dengannya, setiap hari kita selalu
berbagi cerita bersama, bahkan karena kami terlalu dekat semua teman sekolahku
mengira bahwa kita berpacaran. Aku biasa saja mendengar gosip yang beredar di
sekolah tentang kita berdua karena aku tidak memiliki perasaan lebih kepada YS.
Tetapi tidak dengan YS, dia menganggap gosip itu serius. Hingga suatu hari YS
menyatakan cinta padaku, tetapi di detik itu pun aku menolaknya dengan tegas.
“Aku minta maaf, aku tidak bisa memberikan
suatu hal yang lebih dari ini, selama ini aku hanya menganggapmu sebagai
sahabat terbaikku. Sama sekali tidak terlintas dalam fikiranku, jika suatu saat
nanti kita akan berpacaran yang pada akhirnya persahabatan kita akan hancur
hanya gara-gara cinta. Aku tidak ingin hal itu terjadi, dan aku harap kamu
mengerti dengan perkataanku dan selalu memegang prinsip `bersahabat selamanya
tanpa ada rasa cinta`.”
Setelah perkataan itu terlontar dari
mulutku, YS menangis dan berkata.
“Kamu adalah laki-laki paling jahat yang
pernah aku kenal, kamu gak bisa mengerti sedikit saja dengan apa yang aku
rasakan saat ini.”
Tidak lama setelah YS mengucapkan
perkataan itu sahabat-sahabatnya menghampiri kami dan berkata.
“Lo apain dia? Sampai-sampai dia nangis
kayak gini. Lo emang gak punya perasaan. Dasar cowok PHP.”
Tak banyak yang dapat aku katakan pada
saat itu selain kata “maaf, maaf dan maaf.” Kemudian aku pergi meninggalkan
mereka.
Setelah kejadian pada hari itu
persahabatan ku dengan YS mulai merenggang. Tetapi segala cara aku lakukan
untuk memperbaiki persahabatan kita. Dan akhirnya persahabatan kita kembali
seperti dulu lagi dan mungkin perasaan cinta dari YS untukku mulai pudar.
Kemudian aku dekat dengan beberapa wanita
yang digosipkan aku berpacaran dengan mereka. Diantaranya SRS, dia teman
sekelasku, dia selalu bercerita tentang seorang lelaki yang umurnya jauh lebih
tua darinya yang sudah beristri dan memiliki 2 anak. SRS selalu meminta solusi
bagaimana caranya agar lelaki tersebut tidak terus-terusan mengganggunya. Aku
selalu memberikan saran kepadanya hingga akhirnya lelaki itu tidak mengganggu
SRS lagi. Setelah semuanya selesai semua orang berpendapat bahwa aku dengan SRS
berpacaran. Karena beredarnya gosip tersebut, aku berusaha menjaga jarak dengan
SRS, dengan alasan untuk menghindari terjadinya hal yang sama ketika aku dengan
YS.
Lalu aku dekat lagi dengan kelas XII yang
berinisial SSA, aku kakak adean dengannya. Meskipun semua orang menggosipkan
kita pacaran, tetapi aku biasa saja. Begitupun dengan kakak kelas berinisial R,
entah apa yang membuatnya menyukaiku, aku tidak dekat dengannya tetapi
tiba-tiba dia menyukaiku. Aku biasa saja dengan gosip yang beredar di sekolah
ku. Karena aku telah berkata kepada semua orang “Kakak kelas bukan jodohku, apa
pun yang terjadi aku tidak akan berpacaran atau menikah dengan wanita yang
lebih tua dariku”
11 Oktober 2013 adalah hari ulang tahunku
yang ke 15. SAM, sosok gadis yang dulu sempat menghilangkan semangat hidupku
datang kembali di hari ulang tahunku. Dia membawa berbagai hadiah untukku,
salah satu hadiah yang mengejutkanku adalah ketika dia menyerahkan setangkai
mawar busuk yang pernah aku berikan padanya disaat kita pacaran dulu. Dia masih
menyimpan mawar itu meskipun sudah busuk dan dibungkus dengan plastik
trasparan. Semangat hidupku mulai meningkat lagi setelah kehadirannya. Kita
dekat kembali seperti dulu dan aku sangat senang karena dia telah kembali
dengan tubuh yang sehat, penyakit yang dahulu hinggap dalam tubuhnya sekarang
telah benar-benar hilang. Suatu hari aku mengungkapkan perasaanku lagi padanya,
namun dia menolakku dengan alasan dia sudah menemukan sosok lelaki lain yang
berhasil menyingkirkan posisiku dalam hatinya. Sekarang aku benar-benar hancur.
Semangat untuk hidup benar-benar hilang. Sempat terlintas dalam fikiranku,
“untuk apa aku hidup jika tidak bersamanya.” Tapi aku bukan seorang lelaki
pengecut yang akan mengakhiri hidup ini dengan cara bunuh diri hanya karena 1
wanita.
Aku memiliki cita-cita untuk membahagiakan kedua orangtua dengan cara memberangkatkan mereka Naik Haji, aku harus bisa membahagiakan mereka dan membuat cita-cita ku menjadi kenyataan. Maka dari itu aku berusaha bangkit untuk terus mengejar cita-citaku.
Aku memiliki cita-cita untuk membahagiakan kedua orangtua dengan cara memberangkatkan mereka Naik Haji, aku harus bisa membahagiakan mereka dan membuat cita-cita ku menjadi kenyataan. Maka dari itu aku berusaha bangkit untuk terus mengejar cita-citaku.
Satu bulan telah berlalu. Aku menemukan
gadis yang telah sukses membantuku untuk melupakan SAM. Gadis ini berinisial
NSBM. Tetapi, dia adalah pacar sahabat ku sendiri, HH. Aku sama sekali tidak
ada niat untuk merebut NSBM dari HH sahabatku sekaligus pacar NSBM.
Beberapa hari setelah aku merasakan cinta
terhadap NSBM, hubungan NSBM dengan HH mulai merenggang, hingga akhirnya mereka
putus. Kemudian NSBM berpacaran denganku pada tanggal 11 Desember 2013. Hubungan
kita berlangsung dengan penuh kebahagiaan. Tetapi, seiring dengan berjalannya
waktu perasaanku untuknya mulai hilang, begitu pun dengannya, karena banyak
sekali prinsip yang berbeda di antara kita yang membuat kita tidak cocok.
Kemudian pada tanggal 9 Januari 2014, aku memberanikan diri untuk membicarakan
suatu hal yang penting dengan NSBM dan HH mantan pacarnya.
“Maafkan aku telah merusak hubungan
kalian, tapi DEMI TUHAN-, tidak ada sedikitpun niat ku untuk merebut NSBM dari
kamu (HH).” Ucapku kepada HH.
“Enggak kok, malah aku senang kalian
berpacaran. Perpisahkan kami bukan karena kehadiran kamu dalam hubungan kami,
mungkin ini jalan terbaik untuk hubunganku dengan NSBM” jawab HH.
“Tapi hubungan kalian hancur setelah
kehadiranku dalam kehidupan kalian. sekarang aku tanya, kamu masih sayang sama
NSBM?” Tanyaku pada HH.
“Kalau dibilang sayang, masih sayang. Tapi
perasaan sayang ini akan lebih berarti kalau NSBM pacaran dengan kamu, dia jauh
lebih bahagia kalau pacaran sama kamu”. Jawabnya kepadaku.
“Kalau kalian masih sayang, kenapa gak
balikan lagi? NSBM gak bahagia denganku. Kami memiliki banyak prinsip yang
berbeda yang membuat kami tidak cocok. Aku akan lebih bahagia kalau kalian
memulai hubungan kalian lagi dari awal.” Ucapku pada mereka. Kemudian aku pergi
meninggalkan mereka untuk membiarkan mereka mengobrol 4 mata berdua.
Tatapan mata semua orang tertuju padaku,
aku tak peduli. Dan aku terus berjalan menuju Ruang OSIS karena disana
teman-temanku menungguku untuk makan bersama.
Sesampai ku di Ruang OSIS, teman-temanku bertanya.
Sesampai ku di Ruang OSIS, teman-temanku bertanya.
“Kamu kenapa? Kok mukanya merah? Terus
matanya berkaca-kaca.” Tanya salah satu teman ku dengan menampakkan wajah
kebingungan.
“Gak papa, yuk! Katanya mau makan?.”
Jawabku untuk menutupi kesedihanku.
“Jangan bohong, kamu putus sama NSBM?
Kenapa kalian putus? Kok dia akrab lagi sama HH?.” Tanyanya sambil menunjuk
NSBM dan HH yang sedang mengobrol.
“Gak penting, ayo ah makan! Laper banget
nih.” Jawabku dengan tegas agar tidak membahas masalah ini lagi.
Kemudian kami makan bersama dengan nasi
dan lauk seadanya. Meskipun makanan yang tidak seberapa, tapi semuanya terasa
enak jika dimakan bersama-sama. Dan hal inilah yang sering kami lakukan setiap
hari.
Keesokan harinya. Tanggal 10 Januari 2014.
Aku bercerita kepada ke 3 sahabatku di sekolah yaitu, EA, YS, dan MR tentang
masalah yang sedang ku hadapi bersama mantan pacarku, NSBM. Mereka berusaha
membuat ku kembali tegar.
Setelah pulang sekolah, untuk mengilangkan rasa kesedihan dan menghabiskan waktu luang, kami menyempatkan diri untuk bermain ke salah satu Mall yang ada di Kota Bogor. Ketika dalam perjalanan, aku membuat status di contact BBM ku.
Setelah pulang sekolah, untuk mengilangkan rasa kesedihan dan menghabiskan waktu luang, kami menyempatkan diri untuk bermain ke salah satu Mall yang ada di Kota Bogor. Ketika dalam perjalanan, aku membuat status di contact BBM ku.
“Otw Bogor Trade Mall.”
Tidak lama setelah sesampaiku disana,
Handphone ku bergetar. Terdapat BBM masuk dari seorang gadis yang dulu telah
menghilangkan semangat hidupku, ya benar, tidak lain dia adalah SAM.
“Kamu lagi di BTM?.” Tanyany kepadaku.
“Iya, kamu disana juga?.”
“Iya, kamu dimananya?.”
“Aku di 21, kamu dimana?.”
“Aku di lantai Ground?.”
“Kamu kesini cepetan! Aku kangen mau
ketemu.”
“Aku mau pulang, sekarang.”
“Jangan dulu! Please, kamu gak kangen apa
sama aku? Teman-teman aku pengin kenalan sama kamu, cepetan kesini!”
“Yaudah bentar.”
Aku menceritakan bahwa sosok gadis yang
sering aku bangga-banggakan kepada sahabatku, dia berada di tempat kita
sekarang. Kemudian kami menunggunya, dan beberapa menit kemudian dia datang.
Tapi dia tidak menghampiriku, dia hanya sekedar lewat saja. Aku mengejarnya,
menarik tangannya, dan berkata.
“Kamu mau kemana? Katanya mau kenalan sama
teman-teman aku.” Tanyaku padanya.
“Aku malu, lain waktu saja!”
“Aku ingin sekarang! Kita ngobrol dulu
sebentar, kamu gak kangen apa sama aku? Lihat! Tangan aku bergetar, dada aku
berdegup kencang setelah ketemu kamu.
“Aku bisa saja.”
Dia pergi ke lantai bawah. Tapi aku tidak
bisa berbuat banyak. Kemudian aku kembali ke teman-temanku.
“Kenapa? Kok dia malah pergi gitu aja?”
Tanya EA kepadaku.
“Dia malu, makannya dia langsung pergi
lagi. Lihat! Tangan gue gemeteran banget, dada gue berdegup kencang”
“Karena lo masih sayang sama dia, coba
kalo enggak. Pasti biasa aja.”
“Iya, tapi gue gak percaya, tadi ketika
gue bilang tangan gue gemeteran dan dada gue berdegup kencang setelah bertemu
dengannya. Dia cuma bilang, aku biasa aja, gue gak percaya.”
“Tapi kalau kenyataanya gitu gimana?”
Dreeettt, dreeeett. Handphone ku kembali
bergetar, kulihat BBM masuk dari SAM.
“Kalau mau ketemu lagi aku ada di Zone
2000.”
Setelah ku baca Pesan darinya, aku
langsung mengajak teman-temanku ke tempat dimana SAM berada.
Sesampaiku disana, teman-temanku bersalaman dan berkenalan dengannya. Kemudian kami masuk ke Studio Karaoke dan berkaraoke bersama.
Kami menyanyikan 3 buah lagu. pada hari itu aku sangat bahagia karena aku bisa bertemu lagi dengan seseorang yang aku cintai.
Setelah kejadian itu kami mulai dekat kembali seperti dulu kita pacaran. Dan sekarang tanggal 12 Januari 2014. Artinya ini adalah hari jadi kita yang ke 12 kalinya atau tepat yang ke satu tahun. :)
Sesampaiku disana, teman-temanku bersalaman dan berkenalan dengannya. Kemudian kami masuk ke Studio Karaoke dan berkaraoke bersama.
Kami menyanyikan 3 buah lagu. pada hari itu aku sangat bahagia karena aku bisa bertemu lagi dengan seseorang yang aku cintai.
Setelah kejadian itu kami mulai dekat kembali seperti dulu kita pacaran. Dan sekarang tanggal 12 Januari 2014. Artinya ini adalah hari jadi kita yang ke 12 kalinya atau tepat yang ke satu tahun. :)
Selesai